Rasulullah Suri Teladan

Sumber : Tranungkite.net

“Aku benci, benci dengar namanya. Aku sungguh-sungguh tidak mahu mendengar namanya lagi! Kalau aku terus menetap di negeri ini pasti dan pasti namanya itu akan sampai ke telinga ku ini”, mengeluh seorang wanita tua sambil membawa beberapa karung (beg) berisi barang-barang miliknya dengan niat berpindah dari negeri itu.

Wanita tua itu tetap bernekad untuk berpindah dari negeri itu memandangkan dia tidak sukakan seorang manusia mulia. Di mana-mana orang bercakap tentang diri si mulia itu. Itu membuatkan dia tidak selesa tinggal di negeri itu. Dalam panas matahari yang membelah kepala dia sekuat kudrat mengheret karung yang penuh dengan barangan miliknya. Kesan heretan karung itu jelas kelihatan pada lantai padang pasir tersebut, larat atau tidak dia telah membulatkan nekadnya untuk pergi jauh dari bandar tersebut. Yang dia inginkan adalah nama orang mulia itu tidak sampai ke gegendang telinganya, itu sahaja hasratnya buat masa ini. Rasa benci membuak-buak di dalam dada wanita tua tersebut.

Melihat keadaan wanita tua yang terumbang-ambing tersebut tergerak hati seorang pemuda untuk menghulurkan bantuan. Tanya pemuda tersebut “wahai makcik kemanakah arah tujuan makcik?, sekiranya makcik membenarkan saya membawa karung makcik, saya boleh bawakan untuk makcik”. Wanita tua itu pun berkata “makcik tidak tahan mendengar nama Muhammad (s.a.w), di mana-mana nama dia bermain di bibir orang, makcik benci mendengar nama si Muhammad (s.a.w). Sebab itulah makcik mahu pergi jauh dari negeri ini”.

“Kalau begitu biarlah saya tolong bawakan karung ini, sehingga makcik sampai ke tempat tujuan” pemuda itu menawarkan bantuan kepada wanita tua tadi.

Sepanjang perjalanan pemuda itu telah disajikan dengan berbagai berita “kurang baik” dan cercaan demi cercaan mengenai Muhammad, tiada satu pun yang baik melainkan semuanya buruk-buruk belaka. Pemuda yang membawa barang itu sepanjang perjalanan hanya diam dan mendengar dengan penuh tekun. Pesan wanita tua itu “wahai pemuda yang baik hati, kamu telah menolongku di kala tiada siapa yang datang membantuku untuk membawa barangku ini, ramai pemuda gagah telah melewatiku namun tiada siapa yang membantuku melainkan kamu, untuk membalas jasamu itu aku ingin berpesan kepadamu dengan pesanan yang penting, dengarlah baik-baik, jauhilah dirimu dari Muhammad (s.a.w)”. “Apakah makcik pernah jumpa Muhammad (s.a.w) sebelum ini ?” tanya pemuda tersebut. “Tidak, belum pernah bertemu dengannya” jawab wanita tua tersebut. Pemuda itu hanya senyum dan meminta izin untuk kembali ke Makkah memandangkan destinasi wanita itu telah sampai.

“Wanita jenis apa aku ini? Pemuda itu telah menolongku tanpa diminta dan telah bersusah payah membawa karungku ini tetapi aku tidak pun mengucapkan terima kasih atau menanyakan namanya?” bisik wanita tua menyalahkan dirinya. “Wahai pemuda yang baik hati siapakah namamu?”

“MUHAMMAD IBNI ABDULLAH (sallallahu alaihi wasallam)” jawab pemuda itu dengan lembut.

Wanita tua itu terasa langit terbelah dan jatuh ke atas kepalanya. Dia tidak percaya pada apa yang telah berlaku padanya. “Apakah benar kamu Muhammad?, tidak mungkin kamu Muhammad (s.a.w) kerana tiada satu berita baikpun yang sampai kepadaku mengenai Muhammad (s.a.w) melainkan semuanya adalah yang tidak elok mengenainya. Tetapi kamu wahai pemuda yang baik hati, kamu sungguh-sungguh berakhlak mulia, dan bersifat kasih. Apa kamukah yang telah ku cerca sepanjang perjalanan, bagaimana orang musyrikin Makkah sampai hati sanggup mencercamu sedangkan kamulah satu-satunya Al-Amin yang pernah muncul di kalangan kami? Kalau benar kamu Muhammad (s.a.w) bersaksilah kamu wahai pemuda yang mulia Ashhadu allaa I laa ha illallah wa ash hadu anna muhammadar rasulullah. Pada masa itu juga wanita tua itu mengucap kalimah syahadah beriman kepada Allah dan rasul-Nya yang mulia Muhammad (s.a.w)..

Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik

“Siapa (manusia) atau apapun (binatang, kayu kayan) ia maka tunjukkanlah akhlak dan belas kasih yang baik, sebagaimana Allah telah tunjukkan rahim-Nya pada kamu tanpa mengira siapa kamu”.

* orang yang kikir (bakhil, kedukut) adalah orang yang nama Muhammad di sebut di hadapannya tetapi tidak berselawat ke atas diri Muhammad (s.a.w).

Rasulullah saw bersabda maksudnya : “Siapa yang menjurusi satu jalan untuk mencari ilmu nescaya Allah akan mempermudahkan padanya jalan ke syurga.” (Sahih Muslim)

Moga Ada Manfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s